Shobur Nurjaman Ali seorang bocah penjual kue. Sehari-hari dia berkeliling berjualan kue untuk membantu orang tuanya membayar biaya sekolah. Pada suatu hari yang sangat panas, belum ada juga kue yang laku sedangkan dia merasa sangat haus dan lapar. Dia coba buka dompetnya, tidak cukup untuk membeli makanan bahkan minuman. Akhirnya dengan terpaksa dan ragu-ragu dia ketuk pintu salah satu rumah di komplek perumahan tersebut. Tiok tok tok, keluarlah seorang ibu muda dengan pakaian dan penampilan yang menunjukkan dia cukup berada. Sobur mengurungkan niatnya meminta sesuap nasi melihat penampilan ibu muda ini, akhirnya dia hanya minta segelas air putih. Ibu muda ini merasa kasihan pada sobur, akhirnya diambillah segelas besar susu dari dalam rumahnya. Silahkan nak diminum, nampaknya kamu letih sekali. Diminumnya dengan lahap, sangat kelihatan haus yang dirasakan. Bu..berapa harus saya bayar segelas susu ini…..tanya sobur. Kau tidak perlu bayar nak….orang tua kami mengajarkan untuk tidak selalu minta bayaran atas apa yang kita lakukan. Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Sobur telah menjadi pemuda dewasa dan ibu muda ini sudah memasuki masa tua. Di masa tuanya ibu ini menderita, suaminya sudah meninggal setelah pension, usaha yang dirintis gagal karena ditipu orang. Ibu ini jatuh miskin dan sakit sudah cukup lama. Dia sudah berusaha berobat kemana-mana tapi belum juga sembuh. Ibu ini tinggal dikota kecil, rumah sakit tempat dia berobat tidak mampu merawatnya. Akhirnya diberi rujukan untuk ke rumah sakit pusat dengan peralatan yang lengkap dan dokter spesialis berpengalaman. Karena ingin sembuh dari sakitnya maka ibu inipun menuju rumah sakit yang ditunjukkan meskipun dia belum tahu dari mana biaya pengobatan nanti. Sementara itu di rumah sakit yang dituju ibu ini ada seorang dokter yang sangat tertarik dengan pasien dari sebuah kota kecil yang sangat dikenangnya. Dokter inipun segera ingin mengetahui si pasien. Dan ternyata firasatnya benar dia sangat mengenali si ibu ini. Segera dia minta perawat untuk melakukan cekup total terhadap pasien ini dan dengan sangat bersemangat doketer ini merawat dan menyembuhkan. Setelah sekian waktu pengobatan dan perawatan akhirnya ibu ini sembuh. Ketika dia dinyatakan boleh pulang ke rumah, ibu ini bingung menghadapi biaya yang harus dia bayar. Dokter yang merawat ibu ini memi nta kepada bagian administrasi bahwa dia ingin melihat berkas biaya ibu ini. Setelah dilihatnya berkas tersebut, dia menuliskan sesuatu di pojok atas kertas biaya administrasi. Sementara itu ibu tadi berdebar-debar setelah menerima berkas biaya dalam sebuah amplop. Dipegangnya dengan gemetar, dipeluknya amplop tersebut, takut sekali untuk membuka dan mengetahui besarnya biaya dan belum tahu harus bagaimana membayarnya. Dengan tangan yang gemetar dibukalah amplop tersebut dan dilihatnya betapa besar biaya yang harus ditanggung. Dia dan anak-anaknya serta saudara yang lain nampaknya tidak bisa membayar sejumlah itu. Namun dia lihat tulisan di pojok atasnya, tiba-tiba dia sangat terharu dan menangis. Tulisan tersebut berbunyi : telah dibayar lunas dengan segelas susu, tertanda dr. Sobur Nurjaman Ali. Ingatan ibu inipun melayang pada sosok bocah kecil penjual kue. Barulah dia sadar bocah inilah dokter yang menangani penyakitnya.
————————————————————————————————————————————————
- perbuatan positif berbuah positif -













Jangan eman/pelit berbuat baik, krn balasannya so pasti kebaikan pula
Oleh: P Mar on 5 Maret 2010
at 3:29 am
tolong kala menyadur, ya disebutkan dari mana saduran dari artikel diatas…mksh..
Oleh: aku on 22 Januari 2011
at 12:08 am
crita di atas banyak sekali versi dan pengembangannya….salah satunya dari buku setengah isi setengah kosong karya marpaung….
Oleh: smaibukartini on 5 Februari 2011
at 6:14 am