Oleh: smaibukartini | 6 November 2009

Jalinan Silaturahmi

Tanggal 21 Juli 2009 yang lalu SMA IBU KARTINI tepat berusia 29 tahun. Ini berarti sudah 27 kali meluluskan. Jika sekali meluluskan paling seikit 100 siswa saja berarti sudah sekitar 2700 lulusan atau alumni. Padahal sekali meluluskan bisa mencapai 200 siswa. Jika lulusan pertama yaitu tahun 1983 ketika itu berumur 19 tahun misalnya, berarti sekarang sudah berumur sekitar 45 tahun. Dalam karier di manapun termasuk usaha sendiri usia segitu tentu sudah cukup mapan dan matang. Dalam keluarga mungkin anak tertua sudah menginjak SMA.

Jumlah alumni yang sudah ribuan tersebut tentu tersebar di berbagai kota di negeri ini bahkan mungkin di negeri sebrang. Jika jalinan para alumni ini bisa dioptimalkan tentu sebuah kekuatan yang sangat besar. ApapunĀ  bidang pekerjaan dan dimanapun mereka tinggal, jalinan alumni ini akan menjadi daya dukung kuat bagi almamater kita.

Saya yakin para alumni memiliki rasa cinta almamater yang tinggi. Tukul Arwana yang nama aslinya adalah Riyanto merupakan alumni SMA IBU KARTINI Semarang yang lulus tahun 1984. Ketika ada acara siaran langsung di semarang, saya sms beliau untuk mampir di SMA IBU KARTINI, ternyata beliau menyempatkan hadir disela-sela padatnya acara beliua. Ini menunjukkan cinta almamamter.

Untuk para alumni SMA IBU KARTINI dimanapun berada, mari jalin komunikasi dan silaturahmi. Jalilan ini akan menjadi jaringan kekeluargaan yang saya yakin 100 % banyak manfaatnya. Dengan dunia IT sekarang jalinan ini insya Alloh mudah terbentuk. Melalui blog ini dan melalui facebook/grup yang bisa diakses juga lewat HP tentu lebih memudahkan komunikasi dan silaturahmi.

Kami tunggu anda semua untuk menjalin silaturahmi bersama alumni. Terima kasih.

Oleh: smaibukartini | 15 Agustus 2009

Foto Angkatan Awal

Para alumni…terutama angkatan2 awal…berikut sebagian foto yg saya upload, banyak banget fotonya….tapi lum ada tenaga yg bisa scan foto2 itu,,…ni saya cb ambil beberapa….semoga bermanfaat2000

Oleh: smaibukartini | 12 Agustus 2009

SMA dan SMK

SMK bisa………….??!!!

Begitulah bunyinya.….iklan di TV tentang SMK. Nampaknya cukup efektif di banyak tempat SMK kebanjiran pendaftar..sementara SMA (beberapa swasta) kekurangan pendaftar. Wajar, pemerintah memang akan membuat perbandingan SMK banding SMA adalah 70 banding 30. Kondisi ini adalah membalik dari perbandingan sebelumnya, SMK : SMA = 30 : 70.

Konon, masyarakat indonesia itu cocoknya adalah pekerja, maksudnya tidak cocok jadi ilmuwan, makanya pendekatan pendidikan di negara kita diarahkan memiliki skill, sehingga selepas pendidikan tingkat atas atau selepas kuliah diharapkan punya kompetensi untuk bekerja atau membuka lapangan pekerjaan. Inilah yang mungkin jadi alasan kuota SMK ditambah dan SMA dikurangi.

Apakah cukup efektif program ini? dari sisi animo masyarakat masuk SMK memang meningkat, tapi apakah kompetensi yang diharapkan dimiliki para lulusan bener-bener menjadi solusi? lulusan SMK bisa berwira usaha, bisa membuka lapangan pekerjaan, tidak mengandalkan mencari pekerjaan atau tidak menjadi penganggur. Benarkah ini bisa tercapai? mungkin butuh waktu.

Di satu sisi sasaran lulusan SMK bisa mandiri belum tentu tercapai, di sisi lain dampak bagi lembaga pendidikan SMA sudah jelas terasa. Bagi SMA negeri secara umum tidak berdampak kecuali yang di pinggir kota, tapi bagi SMA swasta secara umum sangat terasa. Memang beberapa SMA swasta yang sudah mapan karena didorong yayasan yang kuat, kondisi ini tidak banyak pengaruh, tapi jauh lebih sedikit dibanding SMA swasta yang mengalami penurunan jumlah siswa.

Pelu dipikirkan oleh orang tua ketika akan menjatuhkan pilihan SMK bagi putra-putrinya karena mengikuti saran iklan. Pertama untuk orangtua yang kemampuan ekonomi bukan ekonomi tinggi, alias menengah ke bawah, beaya sekolah di SMK relatif lebih mahal dari pada di SMA karena selain biaya operasional, mesti ada praktik. Belum lagi PSG (pendidikan sistem ganda) atau PKL juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kedua, keinginan untuk segera bekerja perlu dipikirkan apakah lulusan sudah siap berwirausaha sesuai kompetensinya, kalo dah siap apakah tersedia juga modal untuk itu. Kalo belum siap atau tidak kompeten berarti dia harus mencari pekerjaan, sudahkah lapangan kerja mampu menyerap lulusan SMK? bukankah akhirnya akan sama jika kedua faktor di atas belum terpenuhi, yaitu akhirnya banyak yang menganggur.

Sekolah di SMA memang banyak diarahkan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi baik D3 maupun S1. Tapi kenyataan bahwa ilmu umum di SMA ini justru lebih fleksibel. Ketika dia tidak atau belum siap melanjutkan, maka lapangan pekerjaan lebih terbuka, karena kemampuanya umum, sedangkan SMK sudah dibatasi pada kemampuan tertentu. Ketika dia bisa melanjutkan pendidikan, maka lebih siap lagi memasuki dunia kerja karena bekal kuliah cukup membantu, minimal dari cara pandang dan paradigma menghadapi kehidupan ini.

Jadi? SMA pun bisa…………???!!

Tulisan Sebelumnya »

Kategori